Salurkan Hobby Mancing-Mu

Kandungan Oksigen Sungai Mahakam Menurun

Akibat Pendangkalan Terus-menerus

Kandungan oksigen terlarut dalam air (disolved oxigen/DO) di Sungai Mahakam mengalami penurunan, meski masih dalam ambang toleransi. Ini terdeteksi ketika tim dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda melakukan penelitian di Sungai Mahakam Jumat (3/11) sore lalu.

Dosen FPIK Unmul Ir H Iwan Suyatna MSc DEA bersama timnya M Ihsan Nugroho Spi dan Tedy Hanjoko Spi serta dua orang lainnya mengawali penelitian kualitas air Sungai Mahakam di dekat Jembatan Mahakam Samarinda. Dengan sebuah alat digital yang dihubungkan dengan sebuah kabel yang dicelupkan ke air Sungai Mahakam, seketika bisa dilihat kandungan oksigen dalam air hanya 3,1 miligram per liter.

“Kondisi ini memang masih normal, tapi idealnya kandungan oksigen terlarut seharusnya 5 miligram per liter,” ujar Iwan. Sebab, kondisi air yang mengalir mestinya memungkinkan bertambahnya kandungan oksigen dalam air.

“Tapi kandungan oksigen dalam air menurun, mungkin disebabkan banyaknya partikel organik dan anorganik sehingga oksigen banyak terpakai dalam proses dekomposisi partikel-partikel tersebut,” imbuhnya.

Ini juga menunjukkan kondisi pendangkalan air sungai cukup memprihatinkan. Sementara untuk suhu dalam air juga masih normal yakni rata-rata 29 derajat celsius. Sedangkan untuk derajat keasaman (pH), menurutnya juga masih normal yakni di angka 6,4.

Tak hanya kualitas air, kedalaman Sungai Mahakam sore itu juga diukur dengan menggunakan alat khusus. Hasilnya, pendangkalan yang terjadi di Sungai Mahakam bukan isapan jempol. Seiring dengan perjalanan waktu dan makin beratnya kegiatan transportasi yang harus ditopang sungai ini, makin tinggi pula pendangkalan yang terjadi.

Alat pengukur kedalaman sungai yang digunakan adalah Echotral DF 3200 MKII, buatan Amerika Serikat. Alat ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berupa alat sensor yang dibenamkan di air, bagian kedua adalah alat pencatat hasil kerja sensor secara otomatis.

Setelah titik koordinat awal pengukuran dipastikan dengan menggunakan global positioning system (GPS), kapal yang disewa itu langsung menyeberangi sungai sejajar dengan posisi jembatan, tak jauh dari lokasi Kompleks Mahakam Square Samarinda.

Selama menyeberangi sungai yang memiliki tingkat pencemaran cukup tinggi ini, secara otomatis grafik kedalaman tercatat ditandai dengan goresan warna hitam. “Paling tinggi kedalaman hanya 36 sampai 37 meter. Tapi ini dalam kondisi air pasang. Kemungkinan kalau surut bisa lebih dangkal,” kata Iwan.

Untuk tepi sungai, bahkan cukup dangkal, yakni terekam hanya 14 meter. Kedalaman 36 meter sampai 37 meter di sungai ini yang dimanfaatkan kapal-kapal berukuran besar, terutama kapal batu bara yang melintasi sungai ini. (eff)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: